Air galon masuk daftar belanja bulanan yang diprioritaskan hampir setiap rumah tangga. Masalahnya, masih banyak depot air minum isi ulang yang mengesampingkan kualitas dan menjalankan penyaringan seadanya tanpa jaminan apa pun, dan dari proses yang tidak sesuai standar itulah sejumlah bahaya air minum isi ulang bermunculan.
TL;DR (Ringkasan):
- Air minum isi ulang dari depot berisiko jika proses filtrasi dan disinfeksinya tidak sesuai standar.
- Risiko utamanya meliputi keracunan, infeksi saluran pencernaan, dan pertumbuhan mikroba dalam galon.
- Air minum wajib bebas E. coli, yaitu 0 CFU/100 mL menurut Permenkes No. 2 Tahun 2023.
Stok air galon di rumah memang perlu dijadwalkan dengan baik supaya risiko kekurangan hidrasi tubuh Anda dan keluarga bisa dihindari. Minum air putih jelas tidak bisa ditawar. Tapi bergantung pada air minum isi ulang justru membuka pintu bagi masalah kesehatan. Mari kita kenali risikonya lebih dekat.
Apa itu Air Isi Ulang?
Air minum isi ulang adalah air yang diolah depot lalu diisikan kembali ke galon berukuran 19 liter milik konsumen. Aman atau tidaknya air tersebut sangat bergantung pada proses di balik pengisiannya. Pertanyaannya, seberapa yakin Anda dengan kualitas depot yang biasa dikunjungi? Standar nasional mensyaratkan air minum bebas cemaran mikrobiologi, yaitu E. coli dan total coliform 0 CFU/100 mL (Permenkes No. 2 Tahun 2023, JDIH BPK RI, 2023). Depot yang serius menjalankan makrofiltrasi, mikrofiltrasi, dan disinfeksi dengan ozon serta sinar UV untuk mencapai batas itu. Masalah muncul ketika salah satu tahap dilewati atau alatnya jarang dirawat. Contohnya, filter yang tidak pernah diganti justru bisa menjadi sarang kuman. Sebelum membeli, jangan ragu menanyakan proses pengolahan dan jadwal perawatan alat di depot langganan Anda.
Air isi ulang adalah air yang diambil dari berbagai sumber, diolah, lalu diisikan kembali ke galon berukuran 19 liter. Pengisiannya biasanya dilakukan di depot air minum isi ulang. Lalu apakah air isi ulang aman?
Supaya layak minum, air isi ulang harus melewati tiga tahapan: makrofiltrasi, mikrofiltrasi, dan disinfeksi dengan ozon serta sinar ultra violet (UV). Berikut peran masing-masing:
- Makrofiltrasi ditujukan untuk menghilangkan partikel besar, yaitu bau, rasa, dan warna.
- Mikrofiltrasi ditujukan untuk menghilangkan pasir, sedimen, dan beberapa mikroorganisme.
- Disinfeksi menggunakan ozon dan sinar UV ditujukan untuk membunuh bakteri, kuman, virus, dan patogen lainnya guna memastikan air aman dikonsumsi.
Apa Saja Isu Produksi Air Isi Ulang?
Isu produksi air isi ulang berpangkal pada satu hal: kepatuhan depot terhadap standar. Air minum yang layak konsumsi seharusnya berada pada rentang pH 6,5 sampai 8,5 dengan zat padat terlarut (TDS) di bawah 300 mg/L (Permenkes No. 2 Tahun 2023, JDIH BPK RI, 2023). pH yang berubah-ubah dari waktu ke waktu adalah tanda prosesnya tidak stabil. Depot yang prosesnya tidak terpantau sulit menjamin angka-angka itu tetap konsisten dari satu galon ke galon berikutnya. Sumber air yang tidak dicantumkan menambah lapisan risiko lain, sebab konsumen tidak tahu apa yang perlu diwaspadai. Kebersihan galon ikut menentukan, terutama bila galon disimpan lebih dari 24 jam di depot sebelum diambil. Sebagai konsumen, Anda berhak bertanya soal sumber air, proses filtrasi, dan cara depot menangani galon sebelum memutuskan berlangganan.
Standarnya ada. Kepatuhannya yang jadi soal. Sebagian depot air minum tidak mengikuti prosedur yang dianjurkan, atau mengabaikan perawatan alat filtrasi, sehingga isu-isu berikut bermunculan:
1. Air Terkontaminasi
Air minum isi ulang yang diproses di depot pinggir jalan biasanya tidak melewati prosedur berdasarkan SNI. Penanganan yang tidak sesuai standar membuka peluang bagi kuman atau bakteri berbahaya untuk mencemari airnya.
2. Kualitas Tidak Terjamin
Filtrasi yang tidak sesuai standar langsung berdampak pada kualitas air. Berbeda dengan air mineral, air isi ulang yang diproses sembarangan cenderung memiliki tingkat keasaman atau pH yang berbeda-beda, sebab prosesnya tidak terpantau dengan baik.
Padahal batas mutu air minum yang layak konsumsi sudah jelas:
| Parameter | Batas menurut Permenkes No. 2 Tahun 2023 |
|---|---|
| pH | 6,5 sampai 8,5 |
| Zat padat terlarut (TDS) | Di bawah 300 mg/L |
| Kekeruhan | Di bawah 3 NTU |
| Warna | Maksimal 10 TCU |
| E. coli dan total coliform | 0 CFU/100 mL |
Sumber: Permenkes No. 2 Tahun 2023, JDIH BPK RI
3. Sumber Air Tidak Jelas
Kebanyakan depot air minum isi ulang tidak mencantumkan sumber air yang mereka pakai. Ketidakjelasan itu memunculkan pertanyaan soal kualitas air sekaligus risiko kontaminasi limbah dari wilayah tertentu.
4. Galon Tidak Higienis
Bukan cuma sumber airnya. Kebersihan galon adalah masalah tersendiri. Galon yang hendak diisi air baru harus dibersihkan lebih dulu, dan setelah pengisian, galon itu semestinya langsung diserahkan kembali kepada konsumen, bukan disimpan lebih dari 24 jam di depot air minum isi ulang.
Baca juga: Kandungan Air Mineral yang Baik Untuk Tubuh
Apa Saja Bahaya Air Minum Isi Ulang?
Bahaya air minum isi ulang umumnya datang dari mikroorganisme yang lolos ke dalam galon, mulai dari bakteri Escherichia coli sampai virus penyebab gangguan pencernaan. Infeksi yang ditimbulkannya beragam, dan sebagian baru terasa setelah airnya diminum. WHO menegaskan bahwa memanaskan air hingga mendidih bergolak cukup untuk menonaktifkan bakteri, virus, dan protozoa penyebab penyakit (WHO, 2015). Merebus memang bisa menjadi langkah darurat bila Anda ragu dengan kualitas air isi ulang yang telanjur ada di rumah. Tapi langkah itu tidak memperbaiki masalah dasarnya, misalnya sumber air yang tercemar limbah atau galon yang tidak higienis. Perlindungan paling masuk akal tetap dimulai dari hulu: pilih air minum yang sumber dan proses pengolahannya jelas, simpan galon jauh dari sinar matahari, dan pastikan segelnya masih utuh saat diterima.
Semua masalah pengelolaan di atas bermuara pada beberapa bahaya berikut:
1. Risiko Keracunan
Sumber air yang tidak jelas membuka risiko keracunan. Celakanya, bahaya ini baru terasa setelah airnya diminum. Pengecekan kualitas yang tidak sesuai standar bisa meloloskan bakteri atau virus berbahaya, yang kemudian masuk ke saluran pencernaan lewat air minum isi ulang tersebut.
2. Infeksi Saluran Pencernaan
Peralatan pengisian yang tidak dibersihkan dengan benar memperbesar peluang bakteri dan virus masuk ke dalam galon, dan ujungnya adalah infeksi saluran pencernaan. Salah satu bakteri yang kerap jadi biang keladi adalah Escherichia coli. Gangguan yang ditimbulkannya beragam, mulai dari mual, muntah, diare, disentri, tifus, hepatitis, dan lain sebagainya.
3. Pertumbuhan Mikroba dalam Air Galon
Penyimpanan juga menentukan. Air minum isi ulang yang terkena paparan sinar matahari bisa tercemar, dan begitu tercemar, mikroba di dalamnya tumbuh jauh lebih mudah.
Itulah sejumlah bahaya air minum isi ulang yang perlu diperhatikan. Supaya kesehatan Anda dan keluarga tetap terjaga, pilih air minum yang benar-benar tepercaya. AQUA galon misalnya, hadir dengan kemasan ramah lingkungan, diambil dari sumber air terlindungi, dikemas lewat proses berstandar tinggi, dan kemurniannya terjaga sampai ke tangan Anda.
Perlu diketahui, AQUA Galon disanitasi dengan seksama menggunakan air bertekanan tinggi sebanyak lebih dari 20 kali, lalu melewati proses sterilisasi bermutu tinggi tanpa sekali pun tersentuh tangan manusia.
Jadi ingat, tidak semua air itu AQUA. AQUA diambil dari 19 sumber pegunungan terpilih di Indonesia yang punya lapisan pelindung sehingga terbebas dari pencemaran. Rasanya pun dingin alami tanpa perlu didinginkan.
Sebagai produk Indonesia, AQUA mengantongi sertifikat Halal, BPOM, dan SNI sehingga terjamin aman dikonsumsi. Minum AQUA DULU sebelum dan sesudah beraktivitas membantu memenuhi kebutuhan cairan Anda dan keluarga.
Untuk membelinya, Anda bisa mengunjungi AHS (AQUA Home Service) di wilayah sekitar atau supermarket terdekat. Jadi, jangan salah pilih ya. Mari #AQUADULU untuk menjamin kualitas air minum Anda dan keluarga. AQUA 100% Murni, 100% Indonesia, dan 100% Halal.
Baca juga: 5 Manfaat Air Mineral Untuk Kesehatan Tubuh ini Wajib Kamu Tahu!
FAQ Seputar Bahaya Air Minum Isi Ulang
Apakah air minum isi ulang aman dikonsumsi?
Aman jika depot mengikuti standar: makrofiltrasi, mikrofiltrasi, dan disinfeksi dengan ozon serta sinar UV. Masalahnya, kepatuhan tiap depot berbeda-beda dan sulit dipastikan konsumen. Air minum seharusnya bebas E. coli, yaitu 0 CFU/100 mL (Permenkes No. 2 Tahun 2023, JDIH BPK RI, 2023).
Apa saja tanda air isi ulang yang tidak layak minum?
Waspadai air yang keruh, berbau, atau terasa aneh di lidah. Perhatikan juga kondisi depot: galon yang disimpan lama, alat filtrasi yang jarang dirawat, dan sumber air yang tidak dicantumkan adalah tanda bahaya. Bila ragu, merebus air sampai mendidih bergolak bisa jadi langkah darurat di rumah.
Apakah merebus air isi ulang membuatnya aman?
Merebus hingga mendidih bergolak menonaktifkan bakteri, virus, dan protozoa penyebab penyakit (WHO, 2015). Namun merebus tidak menghilangkan cemaran kimia dari sumber air yang tidak jelas. Jadi perlakukan perebusan sebagai solusi darurat, bukan pengganti air minum dengan sumber dan proses yang terjamin.
Keluarga Adem tidak mau berjudi dengan kesehatan. Galon bersegel dengan sumber yang jelas memberi ketenangan yang tidak bisa ditawar. Ketenangan itu kini berhadiah pula: cek kode unik di balik tutup AQUA galon dan tukarkan lewat promo AQUA 100% Untung.
Referensi:

